[Ubuntu] GNOME Shell vs. Unity

GNOME Shell dan Unity. Antarmuka persembahan GNOME Foundation dan Canonical. Keduanya bertujuan untuk memberikan pengalaman komputasi yang enak, mudah, nyaman dan cepat.
Namun, yang manakah yang lebih unggul?
Dibawah ini, saya mencoba membawa keduanya pada sistem penilaian (ciptaan saya sendiri, maaf bila ada yang terlewati) yang, mudah-mudahan, menyangkut semua aspek pada suatu shell.

Shell, pada artian tradisional, adalah suatu penghubung antara pemrosesan komputer dan sang pengguna. Sang pengguna berinteraksi dengan shell agar dapat saling berkomunikasi dengan sistem; shell merupakan penerjemah input/output. Sekitar 10+ tahun yang lalu, shell merupakan suatu alat untuk mempermudah input dan memperjelas output dari perintah baris. Shell yang paling terkenal (dalam artian tersebut) adalah bash. Bash (Bourne-again Shell) merupakan shell default di banyak distribusi Linux, bahkan merupakan default pada Mac OSX [citation needed, mangap]. Selain Bash, shell yang lain juga meliputi sh, ash dan dash.

Namun pada Era Inovasi, artian shell telah dirombak ulang. Walaupun pengertian dasarnya tetap sama (alat mempermudah input/output), namun shell sekarang berjalan diatas lingkungan desktop. Kedua GNOME Shell dan Unity masing-masing berjalan diatas lingkungan desktop GNOME 3. GNOME Shell menggunakan pengelola jendela bernama Mutter dan Unity menggunakan Compiz.

DISCLAIMER: saya tidak mewakili pihak manapun kecuali saya sendiri. Semua penilaian dibawah berdasarkan pengalaman pribadi saya menggunakan Unity dan GNOME Shell. Pengalaman Anda dapat berbeda dengan saya.

SISTEM PENILAIAN
Tiap-tiap shell akan melewati 6 unsur penilaian, yang masing-masing akan diukur dengan nilai 0 hingga 100 (nilai sempurna). Unsur-unsur tersebut adalah FUNCTIONALITY (fungsionalitas, tingkat kegunaan masing-masing shell; seberapa sulit/mudahnya melakukan suatu aktivitas), EASE of use (tingkat kemudahan navigasi dan operasi shell), SNAPPINESS/SMOOTHNESS (tingkat keselarasan dan kehalusan pengoperasian shell), CUSTOMIZABILITY (seberapa luas dan mudahnya mengoprek masing-masing shell), AESTHETICS (tingkat keindahan dan visual shell) dan STABILITY (stabilitas).

Untuk penilaian berikut, saya memakai laptop Dell XPS 14 (L401X) yang berspesifikasi:
∙ CPU: Intel Core i7 CPU Q 740 @ 1.73GHz x 8
∙ RAM: 4GB (maaf, lupa apa DDR3 atau apa)
∙ GRAPHICS: nVidia GeForce GT-425M/PCI/SSE2
∙ OS: Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot x86_64

FUNCTIONALITY
[ ] GNOME Shell: 70
[∙] Unity: 73
Unity sang pemenang, dengan menggunakan fasilitas yang disediakan proyek Ayatana LauncherAPIs seperti Quicklists dan progressbar. GNOME Shell, walaupun ada dokumentasi API-nya, kurang lengkap.

EASE of use

[∙] GNOME Shell: 76
[ ] Unity: 68
GNOME Shell sang pemenang. Menurut pengalaman saya, waktu yang saya perlukan untuk mengadaptasi terhadap lingkungan GNOME Shell berkisar sekitar 15 menit; setengah jam paling lama. Sementara untuk Unity, dengan opsi-opsi penting yang tersembunyi (AppMenu yang autohide, window controls yang autohide), pasti memerlukan waktu lebih dari beberapa jam untuk menyesuaikan diri.
Saya saja yang sudah beberapa bulan menggunakan Unity masih kesulitan operasi penjendelaan.

SNAPPINESS/SMOOTHNESS
[∙] GNOME Shell: 72
[∙] Unity: 72
Draw. GNOME Shell menggunakan Mutter, Unity menggunakan Compiz memberi beban yang sama terhadap komputer saya. Namun, saya tidak menilai dari aspek teknisnya (beban CPU, penggunaan RAM, dll.)

CUSTOMIZABILITY
[∙] GNOME Shell: 78
[ ] Unity: 56
Dengan extension dan sistem pertemaan yang sangat sederhana namun luas, GNOME Shell jelas pemenangnya. Unity, walaupun dapat ditema ke batasan tertentu, tidak/belum memiliki API pertemaan yang jelas, sehingga mengandalkan hack yang berpotensi merusak Unity sendiri.

AESTHETICS
[ ] GNOME Shell: 76 + 5
[∙] Unity: 83
Unity, secara default, memang sangat menawan. Dengan warna jingga, aubergine dan kelabu gelap, memberi kesan keselarasan yang universal terhadap lingkungan yang kita gunakan. Ditambah lagi dengan plugin-plugin efek Compiz yang beragam dan memikat mata, Unity disini menang tipis.
GNOME Shell, secara default, memberi kesan rada basi dengan tema Adwaita-nya, yang memiliki padding seolah-olah untuk komputer tablet. Namun dengan tema-tema dan ekstensinya, GNOME Shell mampu memberi lingkungan yang anggun.

STABILITY
GNOME Shell: 77
Unity: 68
Selama 3 bulan pemakaian GNOME Shell, jumlah eror yang saya dapatkan dapat dihitung jari. Itupun eror-eror yang disebabkan oleh tindakan bodoh saya sendiri. Saya masih ingat ketika GNOME Shell masih dalam tahap bayi, sering terjadi screen freeze disana-sini. Namun dengan GNOME 3.2, angka screen freeze hampir sama dengan nol.
Sedangkan untuk Unity, meski melalui pengembangan 1 tahun lebih, masih berpotensi besar untuk merusak sesuatu, apalagi ketika bermain-main dengan plugin-plugin Compiz.

KESIMPULAN
GNOME Shell: (70+76+72+78+81+77):6 = 75.67
Unity: (73+68+72+56+83+68):6 = 70.00
Menurut sistem penilaian saya, GNOME Shell menang dengan margin yang lumayan tinggi (5.67 poin). Saya-pun telah pindah aliran menggunakan GNOME Shell. Namun, pada ujungnya, semua tergantung pada sang pengguna. Tidak ada pilihan yang salah ketika menyangkut preferensi masing-masing.
Menurut saya, kedua Unity dan GNOME Shell merupakan shell yang revolusioner yang masing-masing mampu bersaing di kompetisi antarmuka paling inovatif dan intuitif. Jadi, semoga beruntung untuk kedua pihak; persaingan yang sehat menyebabkan ciptaan yang lebih inovatif (sindiran untuk *ehem*ehem* *PPLE).

14 comments :

kangkungfu mengatakan...

ya gan gnome shell memang ruarrrrr biasaaaa.........

taufiq mengatakan...

gan gmn ya cara ngatasin bug di ubuntu ane; 'E:Type 't/tiheum/equinox/ubuntu' is not known on line 3 in source list /etc/apt/sources.list.d/tiheum-equinox-oneiric.list'

Galuh Ristyanto mengatakan...

Berbicara soal STABILITY, memang benar mas kalau banyak plugin Compiz yg berpotensi merusak Unity.
Tapi saya masih menggunakan Unity. Belum nyoba pakai Gnome Shell.

MaSsSnUn mengatakan...

menggunakan unity membuat batre cepat habis dan laptopku mudah panas

Muhammad Hari Diputera mengatakan...

@taufiq: silahkan tanya di Page-nya Komunitas Ubuntu Indonesia di Facebook, Gan. Disitu banyak yang ngebantu! :D

@MaSsSnUn: Itu bukan Unity, Gan. Memang itu masalah di Linux-nya. Laptop ane juga sering overheat.

Sofyan mengatakan...

unity lebih komplek, saya sering kebingungan saat berpindah aplikasi saat banyak jendela dimaximize ditambah globalmenu, saya setuju ma agan gnome-shell + thema lebih yahut

Nugroho mengatakan...

@taufik gampang gan, ane juga pernah... masuk terminal ketik sudo gedit /etc/apt/sources.list.d/tiheum-equinox-oneiric.list.. hapus aja huruf 't' yg ada di situ...

Muhammad Hari Diputera mengatakan...

@Nugroho & All: kalo mau menjalankan aplikasi grafis (gedit, nautilus, dll.) dengan izin superuser, jangan sesekali memakai sudo. Pakai perintah gksu atau gksudo.
$ gksu nautilus
$ gksudo gedit
dst.

:D

Uchan mengatakan...

wah untuk laptop pada doyan desktop canggih yak? Fan ane muter kenceng banget pake begituan xD

akhirnya nyaman di openbox. Lapie adem, responsif, batre lebih awet.

taufiq mengatakan...

makasih ya dah pada bantu @all

Anonim mengatakan...

muantap gan. selama pake gnome, lepi kuno ane belom pernah hang ;)

Eddi Kurniawan mengatakan...

Saya setuju ne sama penulis...
Saya juga sekarang pake gnome shell karena mudah dipake...

Anonim mengatakan...

Gan , ubuntu ( linux mint ) ane sering screen hang nih?.... ada saran g?.... ampe pusingnya setiap nge hang harus shutdown paksa

Callahan Whitehat mengatakan...

ane jg lebih pure ke gnome gan???
kalo pake unity ga terlalu suka.....:D

Poskan Komentar