Keadaan GNOME yang Semakin Menurun (rupanya...)



Siapa sangka bahwa DE favorit untuk banyak orang mengalami situasi yang tidak baik? Secara pribadi, saya tidak heran: GNOME telah mengalami banyak kritikan saat perilisan GTK 3 dan GNOME Shell, dan sebagian besar kritikan itu tidak didekati dan tidak disambut. Oleh karena itu, banyak veteran-veteran dan juga nubi Linux pada bermigrasi ke DE yang lebih sesuai bagi mereka, entah itu KDE, XCFE, LXDE, atau para pendatang baru MATE dan Cinnamon. Bahkan salah satu figur penting pada dunia FOSS, Linus Torvalds, mengritik menindas GNOME 3 tanpa belas kasih (maaf, sepertinya laman G+-nya sudah tidak ada lagi) mengenai betapa berantakannya GNOME 3.

Sebuah postingan blog oleh seorang pengembang GNOME menggambarkan masa depan yang tidak terlalu cerah bagi Desktop Environment satu ini. Dia berpendapat bahwa GNOME tidak lama lagi akan jatuh ke dalam jurang dimana terdapat daftar proyek FOSS yang sekarat atau telah mati. Pendapat dia didasari oleh beberapa faktor yang mempengaruhi proyek GNOME, antara lain adalah para pengembang inti GNOME meninggalkan GNOME untuk mengincar proyek yang lain, GNOME tidak memiliki tujuan, dan fakta bahwa GNOME tidak lagi memiliki sumber daya manusia (i.e. pengembang) yang memadai.

Baru-baru ini, GNOME telah meniadakan beberapa fungsi penting Nautilus (sekarang diberi nama "Files") karena alasan "memfokus pada fitur-fitur yang touch-friendly" alias mereka berharap GNOME menjadi OS untuk perangkat touchscreen. Dengan mengutip OMG!Ubuntu!, daftar fitur yang dihapus adalah:

  • Compact View
  • Type Ahead Find
  • Template untuk berkas baru
  • Application Menu
  • Go Menu
  • F3 Split Screen
  • Tree View
  • Bookmarks
  • Shortcut Backspace untuk naik satu level direktori

Yang membuat saya kesal disini adalah mengapa fitur-fitur yang relatif penting dihilangkan. Secara pribadi, fitur Compact View, Type Ahead Find, Berkas Baru, F3 Split Screen, Tree View, Bookmarks dan Backspace Up adalah fitur-fitur yang saya gunakan berkali-kali, setiap hari. Jika mereka dihilangkan, secara efektif Nautilus tidak berfungsi lagi menurut saya.
Namun baru-baru ini ada postingan dari blog GNOME mengenai beberapa alasan mengapa fitur-fitur GNOME dihilangkan: alasan untuk menghilangkan fitur "Compact View" adalah karena "tampilan ini tidak efektif atau efisien untuk pengoperasian berkas." (info lebih lanjut ada disini); alasan untuk menghilangkan fitur Type Ahead Find adalah karena "akan bertabrakan dengan fungsionalitas Search kami yang lebih baru dan lebih kuat."; alasan untuk menghilangkan F3 Split Screen adalah karena "fitur tersebut terlalu terselubung, dan ujung-ujungnya sang pengguna juga memakai fungsi "Move To..." atau "Copy To..." Mengenai fitur-fitur lainnya yang dihilangkan, tidak ada komentar lanjut.

Selain itu, banyak distribusi Linux yang sekarang mengarah dari GNOME ke DE lain. Versi Fedora yang berikutnya akan menggunakan MATE, sebuah fork dari GNOME 2, dan ada permintaan dari salah satu pengembang senior Debian bahwa mereka akan bermigrasi ke DE XFCE untuk versi Wheezy-nya.
Debian dan Fedora termasuk distro yang sangat populer. Apakah migrasi masing-masing distro ini mengindikasi bahwa semakin hari, GNOME semakin kurang diminati? Ubuntu, yang basisnya Debian, bagaimana nasibnya jika shell Unity mereka dihadapi dengan XFCE? Dan yang paling penting, apa yang akan terjadi ada GNOME OS?

Mari berdiskusi...

Segala kesalahan  atau kekurangtepatan informasi diatribusikan kepada fakta bahwa saya sama sekali tidak mempunyai keterampilan jurnalistik. :D

12 comments :

fatih sukran mengatakan...

Gnome..? bukan nya core dari sebagian besar DE tersebut Gnome gan..? XFCE, LXDE, MATE, CINNAMON, GS dan UNITY hampir semua menggunakan gnome libraries. apapun nama nya FORK dan sebagai nya tetep saja bebahan dasar Gnome. jadi terpuruk nya Gnome dimana? klo ane Gnome masih menjadi yg terbaik, dan menurut ane Gnome tu fleksibel, siapa saja, developer mana saja yg merasa mampu mengembang kan nya menjadikan Gnome lebih variatif dan banyak pilihan. ini hanya menurut selera, mo pkai unity, shell, mate ato yg lain tetep saja gnome. CMIIW.

rahman mengatakan...

gan boleh lihat kutipan komen om linus kek bijimana, ane penasaran nih wkwkwk :D (tuh orang emang terkenal tempramen)

Hari Diputera mengatakan...

Kalo nggak salah, Oom Linus bilang GNOME 3 itu "unholy mess", yang kurang lebih artinya "hal yang berantak dan tidak suc."

Hari Diputera mengatakan...

GNOME =! GTK
Kalo keadaan GTK memang bagus. Banyak DE yang makai GTK sebagai widget-nya. Tapi ini artikel secara keseluruhan membahas tentang GNOME yang meliputi GNOME Shell, Files (Nautilus), Documents, dll.

Dan walaupun begitu, GTK juga mulai berkurang pengembang intinya, dan, sama seperti proyek GNOME lainnya, sebagian besar didukung oleh sukarelawan. Masalahnya disini sukarelawan jarang banget bisa ngendaliin arah GNOME; mereka kurang lebih tanggung jawab cuman untuk bugfixing, patches, dll.

Coba agan baca blog pengembang inti GNOME (apalagi yang pertama itu). Mereka pada setuju bahwa GNOME sekarang lagi terpuruk keadaannya.

yusuf karoma mengatakan...

GNOME yg terbaik dah, , , pake unity, cinnamon, manokwari, mate, ujung2nya balik lagi ke GNOME Shell

Rezky Amelia Sy mengatakan...

Saya sendiri menyadari semakin lama saya mengupdate Ubuntu saya, Nautilusnya semakin kacau.

Herman Syah mengatakan...

Mohon advice dari master, DE yang paling bagus dan lengkap buat pemula seperti ane, selain GNOME3, terimakasih :D

Ananda Laksmana mengatakan...

ada Xfce,LXDE,dan KDE


kalau mau yang sangat ringan pakai Openbox, atau Fluxbox

Ananda Laksmana mengatakan...

Hmm. GNOME terlalu melenceng dari tujuan semula dan mengabaikan HIGnya

zayed elfasa mengatakan...

Tampilan bagus, fungsional buruk. Terima kasih.

longhorn mengatakan...

jangan openbox, terlihat "agak susah" buat pemula

Rumah Al Banna mengatakan...

Hidup Manokwari!!!

ehhh ga nyambungya xD

Poskan Komentar